Sains

Mengenal Sesar Opak, Patahan Tektonik Pemicu Gempa di Yogyakarta

Salah satu keunikan dari Sesar Opak adalah karena berada tepat di bawah kompleks Candi Prambanan.

Amelia Prisilia

Ilustrasi gempa. (pixabay/Angelo_Giordano)
Ilustrasi gempa. (pixabay/Angelo_Giordano)

Hitekno.com - Tahun 2006 lalu, warga Yogyakarta dan sekitarnya dikejutkan dengan gempa sebesar 5,9 skala richter. Setelah diteliti oleh para ilmuwan, gempa besar ini rupanya berepisentrum di Sesar Opak yang berada di bawah Kota Yogyakarta hingga Bantul.

Karena keberadaannya, Sesar Opak kerap kali menjadi penyebab sejumlah gempa besar yang terjadi di daerah Yogyakarta dan sekitarnya.

Berdasarkan hasil kajian deformasi koseismik yang dilakukan oleh tim peneliti dari ITB, sesar ini berjenis sinistral dengan panjang mencapai 18 kilometer dan lebar 10 kilometer.

Dilansir dari jurnal Irham Nurwidyanto, Kirbani Sri Brotopuspito, Waluyo dan Sismanto yang diterbitkan Jurusan Fisika FMIPA UGM, sulit rasanya mengetahui lokasi tepat dari Sesar Opak.

Diduga kuat, Sesar Opak membentang sepanjang aliran Sungai Opak dari Prambanan sampai muaranya di sebelah barat Parangtritis. Muara Sungai Opak sendiri merupakan bagian dari dataran rendah Yogyakarta.

Tugu Yogyakarta. (Shutterstock)
Tugu Yogyakarta. (Shutterstock)

Daerah ini tersusun oleh endapan fluvio volkanik Gunung Merapi. Sebelah timur Sungai Opak tersusun oleh batuan sedimen dan dataran tinggi yang menjadi bagian Wonosari dengan batu gamping terumbu dan lain-lain.

Melihat jurnal UGM milik Egie Wijaksono, pada dasarnya, Sesar Opak memiliki kedalaman rata-rata sekitar 55 meter sampai 82 meter dengan pergeseran berkisar antara 5 meter sampai 10 meter.

Salah satu keunikan dari Sesar Opak adalah karena berada tepat di bawah kompleks Candi Prambanan yang bisa saja mengancam kondisi objek wisata terkenal di Yogyakarta ini.

Menjadi salah satu permasalahan yang krusial untuk para ilmuwan apalagi sebagai penyebab gempa di Yogyakarta. Hingga kini penelitian terkait Sesar Opak terus dilakukan guna memahami 'sifat alami' dari patahan tektonik ini.

Berita Terkait